Friday, August 8, 2008

Jakarta doesn't need subway nor monorail

City needs more busways, says the mayor who started it all
Adisti Sukma Sawitri, The Jakarta Post, Jakarta | Wednesday, April 25, 2007

The Colombian mayor who revolutionized Bogota's public transportation system has said that Jakarta's administration should focus on expanding the bus rapid transit (BRT) network instead of developing a subway or monorail.

Former Bogota mayor Enrique Peñalosa, who championed the BRT in his city, told a transportation seminar here that it would be cheaper for Jakarta to expand its busway system.

"A subway would cost three times its contract value, yet it would only cover several lines, (but) with the same amount of money you could reach all parts of the city with the (busway) network," he said during a seminar on BRT best practices.

The administration has signed a soft loan contract for the subway with the Japan Bank for International Cooperation worth $800 million, which Peñalosa said could end up costing it $2.4 billion in repayments, while a BRT covering the entire city would cost only $5 million.

"Imagine how many schools and health facilities we could create if we transfer the subway capital into schools and health facilities," said Peñalosa, who is regarded as a public transportation expert after his success in managing the BRT and bicycle ways in Bogota.

The Jakarta administration has been attempting for some years to realize an integrated mass rapid transit (MRT) system that would include the busway, subway and monorail networks.
While the subway and monorail are still waiting for domestic and international financial support, the administration has established seven busway lanes, most of which run in Central and South Jakarta.

While four new busway lanes have opened since the start of this year, people have complained that the buses are too crowded and that there are long waits at stations.
The administration is yet to complete the targeted number of buses for the corridors, which are meant to be able to carry around 300,000 people every day.
That number is already too high as city-owned operator PT TransJakarta only has 159 buses, half the number it needs to transport the daily number of passengers.

This is also why the Jakarta Transportation Board, the special body overseeing the city's transportation policy, recently refused the administration's request to raise busway fares.

"We asked Transjakarta (the BRT operator) to give us a prudent result of the company's financial and service audit, but they did not give us a satisfying result," said board head Soetanto Soehodho.

He said that numbers in the reports kept changing and sometimes did not match the results of the board's field investigation, proving that TransJakarta still lacked good management.

Jakarta Governor Sutiyoso, however, still takes great pride in the busway service.

A keynote speaker at the same seminar as Peñalosa, Sutiyoso talked for 15 minutes on his struggles to implement the BRT as well as his ongoing efforts to create an MRT.
Arriving late and delivering his speech in the middle of Peñalosa's session, he emphasized his commitment to realizing good public transportation in the city.

"I would like to slap (the faces of his subordinates and financiers) if they don't realize the system for Jakartans," he said, although a few months ago he ordered his staffers to create more fast lanes on Jl. Sudirman and Jl. M.H. Thamrin in order to avoid traffic jams for private car owners.

Aside from the soft loan from the Japanese bank for the subway, a consortium of Middle Eastern banks and local banks have expressed their commitment to covering the monorail project, although the loans are still going through the administration process.

Read More...

Wednesday, March 12, 2008

April besok akan dibentuk PT MRT

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memastikan perseroan terbatas yang akan menjadi pengelola mass rapid transit (MRT) akan dibentuk April.

Untuk itu, Pemprov mengirimkan rancangan peraturan daerah (raperda) ke DPRD karena pembentukan PT tersebut harus melalui Perda.

"Setelah (PT) itu terbentuk kita harus merekrut orangnya. Kita akan mencari yang profesional, yang sesuai dengan spesifikasi internasional. Untuk penyusunan spesifikasi itu, kita dibantu oleh ahli dari Jepang, JBIC," kata Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo di Balaikota Jakarta, Kamis (13/3).

Setelah tertunda tiga bulan, Gubernur menyebut bahwa pembentukan PT MRT Jakarta tidak dapat ditunda lagi untuk mengejar target beroperasinya MRT pada 2012.

"Bulan April ini perusahaan PT MRT sudah harus dibentuk. Pembentukan perusahaan daerah harus dengan peraturan daerah. Oleh karena itu akan dikirim rancangan peraturan daerah untuk pembentukan PT MRT Jakarta," katanya.

Kedepannya, Pemprov akan mengelola MRT tersebut bersama PD Pasar Jaya. "Mengapa PD Pasar Jaya, pertama karena likuiditasnya baik, kedua karena sebentar lagi peraturan daerah untuk PD Pasar Jaya akan diubah, jadi tidak hanya mengelola pasar tetapi juga mengelola properti yang jadi miliknya," kata Fauzi.

Gubernur mencontohkan pasar di luar negeri yang dalam satu bangunan terdapat pasar di bagian bawah dan ada rumah susun di lantai atas bangunan. "Jadi nanti dengan perda yang baru, PD Pasar Jaya diizinkan mengembangkan propertinya ke arah tersebut," katanya.

Penunjukan PD Pasar Jaya sendiri dilakukan karena syarat dari pembentukan perseroan terbatas adalah ada dua pihak yang menjadi pemilik perusahaan.

Asisten Keuangan Pemprov DKI Jakarta Hari Sandjojo menyebut Pemprov menyediakan modal dasar untuk pembangunan MRT itu sebesar Rp150 miliar. Total investasi diperkirakan mencapai Rp8,3 triliun dan saat ini pihak Jepang lewat JBIC (Japan Bank For International Cooperation) telah menyanggupi untuk memberikan pinjaman dengan bunga 0,4 persen selama 30 tahun.

"Saat ini, pinjaman itu digunakan untuk pra konstruksi seperti perencanaan dan analisis kelayakan," kata Hari. [Media Indonesia - PT MRT Jakarta Dibentuk April]

Read More...

Friday, December 14, 2007

2011 Jakarta macet total

Atasi Macet Total Jakarta

Jakarta macet sudah bukan berita lagi. Sebaliknya kalau Jakarta lengang itu adalah berita besar. Boleh dikata, Jakarta lengang tiga-empat hari hanya saat Lebaran Idul Fitri. Di luar itu, kemacetan menjadi teman setia.

Perkiraan pemerintah, jika segala sesuatunya berjalan seperti adanya sebagaimana selama ini, maka Jakarta akan macet total pada 2011 nanti. Sebelumnya stagnasi lalu lintas Jakarta diperkirakan baru akan terjadi 2014, tetapi rupanya pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang 9,5 persen per tahun mempercepat perkiraan tersebut.

Asumsinya, dengan pertumbuhan tersebut, setiap harinya Jakarta akan bertambah 1.127 kendaraan yang terdiri atas 236 kendaraan roda empat dan 981 roda dua. Kini, Jakarta sudah dihuni oleh 5,7 juta kendaraan bermotor yang terdiri atas 43 persen roda empat dan 57 persen roda dua.

Tentu saja kendaraan pribadi menjadi mayoritas. Dari jumlah tersebut 98,5 persen merupakan kendaraan pribadi, selebihnya kendaraan umum yang berupa angkot, kopaja, dan bus besar. Celakanya, kendaraan pribadi itu ternyata hanya mengangkut 44 persen dari pengguna jalan. Kemacetan lantaran jumlah mobil kendaraan itu diperparah oleh kedisiplinan yang sangat rendah. Lihat saja kendaraan yang berhenti di tempat terlarang, parkir di sembarang tempat, sepeda motor main selonong, penyeberang jalan yang seenaknya sendiri.

Jalanan di Jakarta tidak bisa dikelola secara bussiness as usual. Harus ada terobosan untuk mengatasinya. Terobosan dalam hal pembatasan kendaraan, terobosan dalam memberikan alternatif angkutan massal, dan terobosan dalam menegakkan disiplin berkendara.

Sudah banyak alternatif yang diwacanakan selama ini. Ada penerapan electronic road pricing (ERP) sebagaimana di Singapura di mana pada jalan tertentu dan jam tertentu mobil harus membayar. Ada juga wacana penyesuaian pelat mobil ganjil genap yang disesuaikan dengan tanggal kalender.

Pernah juga terwacana pembatasan mobil dengan mengenakan pajak dan parkir tinggi, sehingga hanya orang-orang kaya saja yang mampu memiliki mobil. Begitu juga pembatasan usia mobil; jika mobil memiliki umur yang sudah melampaui batas yang ditentukan, maka pajaknya semakin tinggi.

Tapi, semua itu bisa dilaksanakan jika sudah ada angkutan massal yang cepat, nyaman, dan memadai. Busway misalnya harus tersedia armada yang cukup dan rute yang lengkap. Tak terkecuali, jalur busway yang harus steril, karena kalau tidak busway akan terkena macet sehingga ketepatan waktu tak bisa diandalkan.

Monorel yang setelah sekian lama mangkrak harus dihidupkan kembali. Perlu penyesuaian visi antarpejabat agar semua bisa saling mendukung, bukannya malah menjegal. Monorel yang biayanya Rp 4,6 triliun bukanlah jumlah yang besar, kalau mau itu bisa diatasi oleh perbankan BUMN.

Begitu juga subway yang sudah diwacanakan satu dekade silam, sampai sekarang hanya menjadi wacana, tidak ada ketegasan kapan akan dibangun dan siapa investornya. Selalu terjadi tarik-menarik antara kepentingan ekonomi, sehingga subway ini hanya menjadi wacana.

Kini saatnya bertindak. Tak perlu lagi banyak diskusi, tak perlu lagi banyak berdebat. Segera putuskan. Dibutuhkan kesungguhan, keberanian, dan political will untuk mengurai kemacetan Jakarta. Juga dibutuhkan gubernur yang punya nyali besar. Fauzi Bowo perlu segera membuktikan keahliannya mencegah stagnasi lalu lintas Jakarta. | Republika

Read More...

Friday, December 7, 2007

Kajian sudah selesai

MRT Corporation
Pembentukan Mass Rapid Transit (MRT) Corporation bakal molor sampai Januari 2008. Hal itu terjadi karena terganjal ketiadaan peraturan daerah dan belum ditentukannya format perusahaan. Seharusnya perusahaan yang akan mempersiapkan pembangunan dan menjalankan pengoperasian MRT dibentuk pada akhir 2007.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Kamis di Jakarta Pusat, mengatakan, kajian pembentukan MRT Corporation sudah selesai dan tinggal menentukan personalianya. Peraturan daerah dan format perusahaan akan dibahas bersama DPRD dan diperkirakan selesai Januari.

"Saya hanya minta MRT Corporation dipimpin oleh warga negara Indonesia dan bukan orang asing. Orang asing boleh menjadi anggota perusahaan itu, tetapi WNI yang harus memimpinnya," katanya.

Apabila sudah terbentuk, MRT Corporation akan segera mulai menyusun studi kelayakan dan rancangan teknis detail pada 2008 sampai 2009. Pembangunan fisik untuk jalur MRT dari Dukuh Atas sampai Lebak Bulus akan dikerjakan pada 2010 dan siap beroperasi pada 2014.

Jalur MRT sepanjang 14 kilometer itu akan dibangun dengan dana 800 juta dollar AS. Dana pinjaman lunak berbunga 0,4 persen itu didapat dari Japan Bank for International Cooperation. (CAL/ECA) Jakarta, Kompas

Read More...

Thursday, November 15, 2007

Subway dimulai akhir 2008?

Pagi ini di bundaran HI Gubernur Fauzi Bowo bersama SCTV melakukan tanya jawab dengan masyarakat. Pada kesempata itu disinggung bahwa proyek subway akan dimulai pada akhir tahun 2008 atau permulaan 2009.

"Ini pasti," tegasnya, "ini Gubernur yang ngomong lho.". Menjawab kekhawatiran jalur subway bakal terendam banjir, Fauzi mengungkapkan bahwa teknologi sudah memungkinkan, bahkan terowongan di bawah laut pun bisa dibuat. "Tapi ini memerlukan disiplin pengelola dan masyarakat dalam operasionalnya," ujarnya.

Read More...

Tuesday, August 21, 2007

Pembangunan mulai 2010

Jalur Lebak Bulus-Dukuh Atas Selesai Tahun 2014

Jakarta, kompas - Tahun 2007 pembebasan lahan untuk lokasi pembangunan sistem angkutan cepat massal (mass rapid transit/MRT) mulai dilakukan. Ditargetkan, pembangunan konstruksi dimulai tahun 2010 dan angkutan umum semacam kereta cepat itu mulai berfungsi melayani masyarakat Jakarta pada tahun 2014.

"Selama proses pembangunan, tidak dapat dihindari jika ada gangguan transportasi dan lainnya di sepanjang jalur lokasi MRT. Kami mohon masyarakat memahami hal ini. Pemerintah akan berusaha semaksimal mungkin memperkecil gangguan-gangguan tersebut," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Senin (20/8).

MRT tahap awal akan dibangun sepanjang 14,3 kilometer dari Lebak Bulus ke Dukuh Atas. Jalur ini akan melalui 12 stasiun.

Sepanjang 11,2 kilometer, moda transportasi yang berkapasitas 400.000 penumpang ini melaju di atas permukaan tanah. Jalur di atas tanah melewati delapan stasiun, yaitu Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, Sisingamangaraja, dan Senayan.

Sepanjang 3,1 kilometer selanjutnya, MRT akan menembus bawah tanah, yaitu di Stasiun Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, dan Dukuh Atas.

Lebak Bulus sekaligus menjadi depo perawatan MRT. Juga akan dibangun pusat parkir kendaraan pribadi. Seluruh proses pembangunan MRT diprediksi menelan biaya Rp 8,3 triliun. Dana tersebut didapat dari pinjaman Japan Bank for International Cooperation.

Pinjaman akan dikembalikan selama 40 tahun dengan beban bunga 0,2 persen. Pembagian beban utang adalah 58 persen dibayar Pemprov DKI dan 42 persen oleh pemerintah pusat. (nel)

Read More...

Friday, June 15, 2007

Subway Lebak Bulus - Dukuh Atas

Perusahaan Pengelola Subway Sedang Dikaji
Pekerjaan fisik proyek MRT akan dimulai pada akhir 2008.

Pemprov DKI Jakarta sedang mengkaji pembentukan perusahaan pengelola proyek mass rapid transit (MRT) berupa kereta api bawah tanah (subway). Perusahaan pengelola operasional itu ditargetkan terbentuk awal tahun depan.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, menambahkan perusahaan tersebut merupakan gabungan dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah. "Unsur dari pemerintah pusat tentunya akan melibatkan PT Kereta Api Indonesia," ujar dia, Kamis (14/6). Alasannya, PT Kereta Api merupakan satu-satuya perusahaan pemerintah yang bergerak di bidang transportasi dengan berbasis rel.

Sementara dari pihak pemerintah daerah, Fauzi mengatakan pihaknya sedang memikirkan perwakilan dari dinas mana yang bakal menjadi opsi terbaik untuk pemerintah daerah. Pembentukan korporasi pengelola MRT pada tahun depan sangat penting karena merupakan salah satu syarat pengucuran pinjaman. Rencananya, untuk membiayai proyek MRT di Jakarta pemeritah akan meminjam dana dari Japan Bank for International Corporation (JBIC) senilai 800 juta dolar AS atau setara dengan Rp 7,2 triliun.

Fauzi menambahkan model MRT di Jakarta kemungkinan besar mencontoh India. Alasannya pembangunan MRT di India memakan dana yang tidak melebihi anggaran. Bahkan bisa lebih efisien 10 persen. Padahal di seluruh dunia pembangunan MRT merupakan proyek besar dan selalu diakhiri dengan anggaran yang melambung.

Rencananya, setelah mendapatkan pinjaman dari JBIC, pekerjaan fisik MRT di Jakarta akan dimulai pada akhir 2008. Pekerjaan tersebut ditargetkan selesai pada 2014. ''Dalam pekerjaan fisik ini, setidaknya mampu menyerap tenaga kerja sekitar 50 ribu orang,'' ujar Fauzi.

Proyek MRT yang akan dibangun berupa subway jurusan Lebak Bulus-Dukuh Atas sepanjang 14,3 kilometer. Pada jalur Lebak Bulus-Dukuh Atas nantinya akan dibangun 12 stasiun yang terdiri atas sembilan stasiun layang dan tiga stasiun bawah tanah. Sembilan stasiun layang terdapat di Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, Sisingamangaraja, dan Senayan. Sedangkan stasiun di Bendungan Hilir, Setiabudi, dan Dukuh Atas akan dibangun di dalam terowongan bawah tanah.

Terminal Lebak Bulus rencananya akan diperluas untuk depo MRT. Untuk itu, Pemprov DKI akan membebaskan lahan di Lebak Bulus dan juga pelebaran Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan. Dananya sudah dialokasikan dalam APBD DKI 2007 sebesar Rp 80 miliar. Dana tersebut, ujar Fauzi, bakal dihitung dalam penyertaan modal Pemprov DKI di proyek MRT.

Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta yang membawahi pembangunan, Sayogo Hendrosubroto, membenarkan bahwa anggaran pembebasan lahan untuk MRT sudah dialokasikan pada APBD DKI 2007 sebesar Rp 80 miliar. Anggaran tersebut sebenarnya sudah dianggarkan pada APBD DKI 2006. Jumlahnya pun lebih besar yaitu Rp 83 miliar. ''Anggaran untuk pembebasan lahan untuk MRT memang sudah dianggarkan pada APBD tahun lalu,'' n ind [Republika]

Fakta Angka: Rp 7,2 Triliun, Dana pinjaman dari JBIC untuk pembiayaan subway

Read More...