Menengok "Subway" di Mexico City
Pascal S Bin Saju
Kompas | Cerita seorang rekan di Bogota, Kolombia, tentang polusi di Kota Meksiko cukup menakutkan. "Mexico City termasuk salah satu kota terpolusi di dunia. Bahkan, mata akan segera terasa perih begitu pesawat yang Anda tumpangi berada dekat di atas kota itu," katanya.
Ibu kota Estados Unidos Mexicanas (Negara Kesatuan Meksiko) itu ternyata tidak seperti yang digambarkan rekan tadi. Seantero kota dapat dipandang jelas dari udara, bersih dan cerah, secerah udara Jakarta pada hari libur panjang.
Kota yang terletak pada ketinggian 2.240 meter di atas permukaan laut itu terangkai dalam studi banding kami tentang transportasi kota berkelanjutan setelah Bogota. Di sini ada jalur khusus Metrobus. Kami juga menyusuri jalur khusus sepeda yang ada di pusat kota.
Jalur khusus bus (busway) di sini jauh ketinggalan dari Bogota karena hanya memiliki satu koridor dengan panjang 19,4 kilometer. Begitu juga dengan jalur sepedanya. Fasilitas terminal busway, dan haltenya bahkan ketinggalan dari transjakarta.
Misalnya, konstruksi halte Metrobus dibuat terbuka. Jika hari hujan, sebagian ruang tunggu bisa kemasukan air. Calon penumpang, atau penumpang tidak nyaman berdiri di pintu. Jalur sepedanya sepi, dan lebih banyak difungsikan untuk pejalan kaki.
Sekalipun demikian, dengan hanya satu koridor saja, tersedia 97 unit Metrobus yang mampu mengangkut 251.000 penumpang setiap harinya. Bandingkan transjakarta dengan 159 bus di tiga koridor sekarang hanya mampu mengangkut sekitar 120.000 orang per hari.
Pembangunan busway Metrobus tetap terkoneksi dengan jalur-jalur angkutan publik lainnya, serta pedestrian dan jalur sepeda. Tidak heran, dari total 20,1 juta orang yang hilir mudik setiap harinya, 82 persennya bepergian dengan angkutan publik.
Perhatian kami di Mexico City bukan busway, jalur sepeda dan pedestrian, melainkan jalur kereta cepat massal (subway) Metro. Subway yang beroperasi sejak 4 September 1969 atau 37 tahun silam telah menjadi tulang punggung transportasi kota itu.
Kini, dengan 338 kereta di 11 lintasan (line) sepanjang total 201,7 kilometer jalur ganda (double track), Metro mengangkut 4,2 juta orang per hari ke 175 stasiun kota. Itu belum termasuk lintasan light rail antara Tasquena-Embarcadero di bagian selatan kota.
Seluruh 11 lintasan itu menggunakan kereta roda karet seperti di beberapa lintasan yang sama di Paris, Montreal, dan Santiago de Chile. Hanya lintasan ke-10 atau lintasan A yang sudah menggunakan roda besi.
Hal yang sungguh mencengangkan, daya angkutnya mampu mencairkan 14 persen dari total kepadatan arus 20,1 juta orang yang bepergian di kota itu per harinya. Metro kini dibanggakan sebagai sebuah solusi tepat untuk angkutan publik di kota itu.
Stasiun induk Pantilan merupakan stasiun transfer terbesar di dunia. Pantilan menjadi muara dari sejumlah lintasan lain seperti Observatorio (line 1), Politecnico (line 5), Patriotismo (line 9), La Paz (line A) dan menjadi terminal akhir dari ratusan rute bus kota dan antarkota di Meksiko.
Ada yang menarik untuk dicermati dalam subway Metro ini. Investasi untuk pembangunan seluruh infrastrukturnya mahal, 70 juta dollar AS atau setara Rp 630 miliar (kurs Rp 9.000) per km. Meski mahal, keputusan untuk membangunnya tetap diambil.
Sekilas termasuk mahal, namun sistem subway Metro ini ternyata paling murah di seluruh dunia dan harga tiketnya dua peso, atau setara Rp 2.100. Tarif normal memang enam peso, tetapi empat peso disubsidi pemerintah kota.
Bandingkan biaya pembangunan subway yang direncanakan di lintasan Blok M-Kota sekitar Rp 800 miliar per km. Jika saja lintasan ini jadi dibangun di sepanjang 30 kilometer, hampir pasti akan menelan Rp 24 triliun.
Dilematis
Margarita Rodriquez-Marpica Cool, salah satu direktur Metro menjelaskan, pilihan membangun subway pada awalnya memang dilematis. Sebagai salah satu kota besar dunia, dengan jumlah warga metropolitan 17,9 juta jiwa (Jakarta 9,5 juta jiwa), arus lalu lintas menyesakkan kota. Di satu sisi, biaya yang dibutuhkan mahal.
Katanya, membiarkan Meksiko mengalami kematian arus lalu lintas atau terus berupaya membangun subway karena memang uang mudah dicari. Dengan berbagai pertimbangan demi kemajuan kota dan aksesibilitas publik, pilihannya ialah harus membangun subway.
Agar tidak mahal, subway juga dibangun di permukaan tanah. Dengan itu subway Metro tidak identik dengan kereta bawah tanah. Dari sekitar 201,7 kilometer yang sudah terbangun, sekitar 14 persen berada di permukaan tanah.
Lintasan subway pertama dibangun 12,660 km antara Zaragoza di timur dan Chapultepec di barat kota dilengkapi 16 stasiun. Pilihan itu dilakukan karena sistem angkutan dengan bus kota sudah tidak memadai untuk mengurai kemacetan kota. "Itulah awal dari solusi terbarukan untuk angkutan publik," jelas Margarita.
Semula, dengan membangun 42 km jalur subway (fase pertama hingga tahun 1975), diprediksikan cukup untuk melayani 11 juta penduduk megapolis. Ternyata, pada saat itu dua kereta terlibat tabrakan di stasiun Viaducto karena faktor kelalaian manusia. Setelah seluruh sistem dibenahi, sejak itu tidak pernah ada lagi kecelakaan kereta.
Mulai tahun 1977, Master Plan Metro pun disusun. Pemerintah Meksiko berencana membangun jaringan sejauh 315 kilometer hingga pada tahun 2015 dan diproyeksikan untuk 15 lintasan atau rute, yang bisa juga menjangkau pinggiran kota.
Kini, warga Mexico City bergantung pada subway Metro. Meski Pemerintah Mexico City pada November 2000 mengumumkan, bahwa takkan ada lagi lintasan baru dalam dua tahun berikutnya, atas desakan publik kini lintasan ke-12, antara Mixcoa (line 7)-Constitucion de 1917 (line 8) pun dibangun.
Tingkat pelayanan Metro pun amat memuaskan. Waktu layanannya pun cepat, setiap 2-3 menit selalu ada kereta yang datang ke setiap stasiun, dan pada jam sibuk (pagi dan sore), orang hanya membutuhkan 10-15 menit untuk menanti kereta tiba di stasiun, seperti yang kami alami ketika mencoba di lintasan Candelaria-Salto del Agua.
Naik kereta Metro pun terasa nyaman. Meski duduk atau berdiri berdesak-desakan di dalam kereta, saking nyamannya, kaum ibu dan gadis di Mexico City suka sekali berdandan di dalam kereta tanpa memedulikan orang-orang sekitarnya.
Selain busway dan monorel, Jakarta juga memang sudah saatnya merencanakan pembangunan subway. Atau mengefektifkan kembali seluruh jaringan kereta yang ada di dalam kota untuk dipadukan dengan angkutan publik lainnya.












0 comments:
Post a Comment